Sadomasokisme

Konsep Sadomasokisme merupakan gabungan antara sadisme dan masokisme yang terus meluas seiring dengan perkembangan seksualitas manusia. Sadomasokisme saat ini tidak hanya dipandang sebagai suatu penyimpangan, melainkan dapat dilihat sebagai preferensi atau variasi seksual, gaya hidup atau hubungan, metode pencapaian puncak spiritualitas, pelepas ketegangan dan bahkan, tak mesti melibatkan elemen seksual.

A. Sadisme

Sadisme adalah penyimpangan seksual yang dialami seseorang jika kepuasan seksual diperoleh oleh orang tersebut bila melakukan tindakan penganiayaan atau menyakiti pasangannya sebelum atau saat melakukan hubungan seksual.

Individu dengan gangguan ini secara konsisten memiliki gangguan fantasi seksual dengan cara menyakiti pasangannya dengan teror baik secara fisik ataupun psikologis. Penyimpangan ini beda halnya dengan perilaku seksual kasar, sadisme seksual akan mengajak atau memaksa pasangannya untuk melakukan hal-hal sadistik dalam setiap aktivitas seksual.

Perlakuan sadistik oleh pelaku sadisme seksual bukanlah akting atau pura-pura, mereka serius dalam melakukannya. Kebanyakan pelaku sadisme mempunyai gangguan kepribadian antisosial atau yang sering disebut dengan psikopat.

Bentuk ekstrimnya, perilaku sadisme dapat dilihat dalam kasus pemerkosaan yang disertai dengan penyiksaan dan pembunuh. Penderita sadisme seksual akan merasakan kepuasan seksual bila pasangannya itu mati. Namun demikian hal ini bukanlah menjadi salah satu motif perilaku sadisme seksual untuk menyiksa korban atau pasangannya sampai mati. Rasa sakit pasangan juga tidak menjadikan gairah seksualnya meningkat. Pemerkosaan yang disertai kekerasan akan membuat pelaku bergairah dan pelaku akan terus mengulangnya pada kesempatan lainnya. Oleh karenanya, sadisme seksual merupakan kejahatan serius yang dapat dijerat dengan hukuman yang berat.

Beberapa perilaku sadisme seksual lainnya dapat berupa;

1. Pemaksaan atau pemerkosaan, penolakan korban menjadi gairah seksual pelaku dalam melakukan aksinya. Semakin korban meronta, melawan, menangis maka pelaku semakin bersemangat.

2. Pelaku melakukan penyiksaan yang sebenarnya, pemukulan sampai menimbulkan luka memar.

3. Melukai bagian tubuh tertentu dari pasangannya sampai mengeluarkan darah.

4. Beberapa individu gangguan juga disertai simtom masokis.

5. Melakukan penyiksaan seksual dengan pemaksaan atau sampai luka (melukai alat genital).

6. Melakukan penyiksaan berat dengan menggunakan cambuk, kejutan listrik, dan sebagainya.

B. Masokisme

Masokisme yaitu seseorang akan merasa terangsang dan memperoleh kenikmatan seksual jika terlebih dahulu membiarkan dirinya disakiti. Istilah ini berasal dari nama seorang penulis asal Austria pada abad ke-19, Leopold von Sacher-Masoch, yang novelnya sering menyebutkan karakter yang terobsesi dengan kombinasi seks dan rasa sakit.

Perilaku menyimpang semacam ini salah satunya disebabkan oleh sikap orangtua dan guru yang diktator, yang berlangsung begitu lama sehingga membentuk kepribadian masokis. Masokisme adalah satu-satunya kelainan paraphilia yang dialami oleh perempuan, sekitar 5 persen makosis adalah perempuan.

Masokisme seksual juga harus dibedakan dari sindrom martir (orang yang ingin jadi martir, mencari penderitaan atau penganiayaan untuk memenuhi kebutuhan psikologis) dan gangguan kepribadian mengalahkan diri (meski juga dikenal dengan gangguan kepribadian masokistik). Gangguan kepribadian mengalahkan diri merupakan pola perilaku mengalahkan diri, menghindar dari kesenangan dan tertarik pada penderitaan. Orang dengan gangguan kepribadian ini mencari orang untuk mengecewakan diri sendiri, menolak pertolongan, hal positif yang dialami direspon dengan depresi atau menyakiti diri, suka memancing amarah dan penolakan, mencari pasangan yang mengabaikannya dan sejenisnya. Perilaku tersebut tidak khusus terkait dengan respon seksual dan tidak hanya terjadi ketika depresi.

Masokisme mengacu pada pengalaman menerima kenikmatan atau kepuasan dari penderitaan sakit. Pandangan psikoanalitik bahwa masokisme adalah agresi berbalik ke dalam dirinya, ketika seseorang merasa terlalu bersalah atau takut untuk mengungkapkannya secara lahiriah.

 

2 responses to “Sadomasokisme

  1. Ping-balik: Penyimpangan Seksual | HIMIKA UNG

  2. Ping-balik: Penyimpangan Seksual | Kumpulan Informasi Kesehatan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s